Ini Tanggapan Luar Biasa Dari Cak Nun, Soal Habib Rizieq Dan Demo 4 November


Rakyat.win ~ Dalam sesi dialog Lesehan Bahasa dan Sastra di Yogyakarta (31/10), salah seorang hadirin bertanya kepada Emha Ainun Najib soal siapa sebenarnya yang berhak menafsirkan Al-Qur’an pasca-wafatnya Rasulullah Saw. Ia lalu mengaitkan pertanyaannya dengan Habib Rizieq yang sebagian orang meyakininya layak menafsirkan Al-Qur’an termasuk soal Al Maidah 51. Sedemikian sehingga pemuda ini pun mempertanyakan kembali harus tidaknya patuh pada instruksi petinggi Front Pembela Islam ini untuk turun demo 4 November nanti.

“Sebagai makhluk yang diberi bonus potensi akal oleh Allah, manusia  berwenang menafsirkan Al-Qur’an karena memang kitab petunjuk ini diturunkan untuk mereka semua,” kata Emha mengawali tanggapanya atas kontroversi tafsir Al-Maidah 51 yang disinggung pemuda itu.

Bahwa ada yang tafsirnya keliru atau tidak sama satu sama lain, bagi pria yang akrab disapa Cak Nun ini, tidak ada masalah. Adapun soal ketaatan, jangankan Habib Rizieq, setiap orang diberi kebebasan untuk memilih taat pada Rasulullah Saw atau tidak. Dan tentunya masing-masing pilihan memiliki konsekuensi atau resiko.

“Anda juga tidak taat pada Habib Rizieq tidak ada masalah. Siapa bilang harus taat pada Habib Rizieq? Siapa bilang harus taat pada saya?” katanya.

Lepas dari siapa yang harus ditaati, penulis ‘Surat Kepada Kanjeng Nabi” ini pun mengingatkan bahwa kita seharusnya tidak lupa taat pada keputusan diri sendiri atas apa yang telah kita tafsirkan dari kandungan Al-Qur’an itu.

Menyinggung pernyataan Nusron Wahid di forum ILC, Cak Nun menambahkan, “Yang tahu mutlak Al-Qur’an hanya Allah. Manusia tidak dituntut tahu mutlak terhadap Al-Qur’an. Manusia tahu secara relatif. Karena itu tafsir melahirkan aliran-aliran.”

Jika selama ini orang sibuk dengan tafsir, Cak Nun pada malam itu menawarkan konsep  “tadabbur Al-Qur’an”. Selain keduanya memiliki perbedaan pendekatan pada Al-Qur’an, tadabbur  memiliki “dampak akhlak” bagi seseorang dalam kehidupannya dibanding tafsir. Siapa saja bisa menafsirkan Al-Qur’an sesuai tingkat pemahamannya, meski setelah itu tafsirnya tak berdampak apapun bagi kehidupannya. Sekali lagi, Cak Nun menggarisbawahi bahwa tafsir – karena relatif – pasti melahirkan perbedaan, bahkan benturan.

“Anda juga berhak menafsirkan Al-Qur’an. Bahwa (tafsir Anda) tidak benar, tidak ada masalah. Wong bukan Allah, bukan Rasulullah,” kata cendekiawan Muslim yang juga dikenal sebagai budayawan kondang ini.

Dampaknya juga pada perbedaan pandangan soal demo 4 November yang juga dianggap lahir dari Al-Maidah 51. “Ada yang ikut tanggal 4 silahkan, ada yang tidak ikut silahkan,” kata pria kelahiran Jombang ini sembari menegaskan dirinya tidak ingin terlibat pada konflik “2 kubu” ini.

Kembali Cak Nun  mengingatkan bahwa masalah ikut atau tidak dalam demo 4 November bukan lagi pertimbangannya sebatas persoalan Al-Maidah 51. “Tapi lebih luas dari itu. Ada konteks yang berlipat-lipat.”


Bagi Cak Nun, yang di Jakarta berhak demo tanggal 4 November sebagaimana pihak yang melawan demo itu juga memiliki hak. Karena itu, dalam menyikapi perbedaan ini, agar tidak terjadi pertengkaran hingga saling bunuh, Cak Nun mengajak menjaga diri masing-masing. Apalagi, terjadinya pertumpahan darah akibat perbedaan tafsir adalah fakta tak terhindarkan dalam sejarah kehidupan umat manusia ini.

“Jadi Anda berhak menafsirkan apa saja tentang diri saya, sebagaimana saya berhak untuk menafsirkan diri Anda apa saja.”

Sikap ini memang bisa saja berujung pada pertengkaran,”Dan memang begitulah hidup itu sejak Nabi Adam. Mesti berbeda pendapat. Maka kuncinya, apakah Anda mengaku jujur pada diri sendiri ketika mengalami perbedaan dengan orang lain.”


Jika ditanya lalu siapa yang benar, Cak Nun menjawab tentunya Yangmaha Benar, yaitu Allah. Dan jawaban ini katanya telah dijelaskan di kajian rutin Maiyah. Salah satunya, Cak Nun menyindir orang-orang yang selalu merasa paling benar sendiri untuk tidak usah shalat lagi. Karena dalam shalat, tiap orang harus membaca “tunjukilah kami jalan yang lurus”.

“Hidup manusia berposisi doa, berposisi belum atau sedang (berusaha mencapai kebenaran yang sejati). Sedang berjuang sepanjang hidup hingga hijrah melalui maut, untuk mendapatkan ridha Allah.”

Dari pantauan Islam Indonesia, selain dihadiri oleh Cak Nun, Malam Puncak Bahasa dan Sastra ini juga dihadiri oleh sejumlah sastrawan senior seperti Imam Budhi Santosa dan Musthafa W Hasyim. Di depan hadirin yang memadati gedung Grahana Whana Bakti Yogyakarta ini, Cak Nun dan sastrawan lainnya melakukan dialog  seputar bahasa, kata dan makna dari berbagai sudut pandang. Di sela-sela forum, pria 63 tahun ini juga mempersembahkan sejumlah puisi seperti “Apa Ada Angin di Jakarta?” yang kemudian dinyanyikan oleh Novia Kolopaking bersama Kiai Kanjeng.


Seperti diberitakan sebelumnya, Gubernur Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Punama telah dilaporkan sejumlah ormas termasuk FPI dalam kasus Al Maidah 51. Sejauh ini, menurut Kepala Polri Jenderal Pol Tito Karnavian, penyelidik  telah memintai keterangan sejumlah saksi, ahli, dan pelapor dalam dugaan penistaan agama ini. Namun salah satu pelapor, yakni perwakilan dari FPI, telah diundang untuk hadir oleh penyelidik tetapi belum datang.

“FPI minta ditunda, minta Selasa atau Rabu (pekan ini). Padahal, kami maunya cepat (usut kasus Ahok),” kata Kapolri Tito di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Senin (31/10).

Sumber: IslamIndonesia.id

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ini Tanggapan Luar Biasa Dari Cak Nun, Soal Habib Rizieq Dan Demo 4 November"

Posting Komentar